Sabtu, 31 Januari 2009

NAPZA (Narkotika Alkohol Psikotropika dan Zat Adiktif)


NAPZA adalah singkatan dari Narkotika Alkohol Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya. Kalau dijabarkan satu persatu maka Narkotika menurut UU no 22 tahun 1997 adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan. Narkotika digolongkan menjadi golongan opioid, kanabis, dan koka.

Alkohol adalah minuman yang mengandung etanol yang diproses dari bahan hasil pertanian yang mengandung karbohidrat dengan cara fermentasi dan distilasi atau fermentasi tanpa distilasi, baik dengan cara memberikan perlakuan terlebih dahulu atau tidak, menambahkan bahan lain atau tidak, maupun yang diproses dengan cara mencampur konsentrat dengan etanol atau dengan cara pengenceran minuman yang mengandung etanol.

Psikotropika adalah zat atau obat baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan syaraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Psikotropika menurut Undang-undang Nomor 5 tahun 1997 meliputi ectasy, shabu-shabu, LSD, obat penenang/obat tidur, obat anti depresi dan anti psikosis.

Zat Adiktif Lainnya adalah bahan lain bukan narkotika atau psikotropika yang penggunaannya dapat menimbulkan ketergantungan. Zat adiktif lain termasuk inhalansia (aseton, thinner cat, lem, nikotin, kafein)

NAPZA yang sering disalahgunakan antara lain (WHO 1992) adalah :

1. Alkohol : Semua minuman beralkohol.

2. Opioida : heroin, morfin, pethidin, candu.

3. Kanabinoida : Ganja, hashish.

4. Sedativa/hipnotika : obat penenang/obat tidur.

5. Kokain : daun koka, serbuk kokain, crack.

6. Stimulansia lain, termasuk kafein, ectasy, dan shabu-shabu.

7. Halusinogenika : LSD, mushroom, mescalin.

8. Tembakau (mengandung nikotin).

9. Pelarut yang mudah menguap seperti aseton dan lem.

Bila seseorang menggunakan NAPZA maka akan dijumpai gejala intoksikasi yaitu gejala dimana NAPZA tersebut bekerja dalam susunan syaraf pusat yang menyebabkan perubahan memori, perilaku, kognitif, alam perasaan, dan kesadaran. Apabila seseorang menggunakan NAPZA terus menerus maka akan terbentuk keadaan toleransi, dimana toleransi ini akan meningkat seiring waktu sampai akhirnya terjadi overdosis.

Bila pengguna NAPZA menghentikan penggunaan obat-obatan tiba-tiba pada saat tahap toleransi yang cukup tinggi, maka akan terjadi kondisi withdrawal atau sindroma putus zat. Gejala atau sindroma putus zat akan berbeda untuk tiap jenis NAPZA yang digunakan.

NARKOTIKA

  1. Golongan Opioid

Opioid berasal dari kata Opium. Jus dari bunga opium, Papaver somniverum, yang mengandung kira-kira 20 alkaloid opium, termasuk morfin. Nama opioid juga digunakan untuk opiat, yaitu suatu preparat atau derivat dari opium dan narkotika sintetik yang kerjanya menyerupai opiat tetapi tidak didapatkan dari opium. Opiat alami lain atau opiat yang disintesis dari opiat alami adalah heroin, kodein, dan hydromorphone.

Sejumlah besar narkotik sintetik (opioid) telah dibuat, termasuk meperidine (Demerol), methadone (Dolphine), pentazocine (Talwin), dan propocyphene (Darvon). Saat ini Methadone banyak digunakan orang dalam pengobatan ketergantungan opioid. Antagonis opioid telah dibuat untuk mengobati overdosis opioid dan ketergantungan opioid. Kelas obat tersebut adalah nalaxone (Narcan), naltrxone (Trexan), nalorphine, levalorphane dan apomorphine. Sejumlah senyawa dengan aktivitas campuran agonis dan antagonis telah disintesis dan senyawa tersebut adalah pentazocine, butorphanol (Stadol), dan buprenorphine (Buprenex). Beberapa penelitian telah menemukan bahwa buprenorphine adalah suatu pengobatan yang efektif untuk ketergantungan opioid. Beberapa jenis opioid antara lain metadon, demerol, codein, candu, heroin, dan morphin.

Efek yang ditimbulkan antara lain :

1. Mengalami pelambatan dan kekacauan pada saat berbicara.

2. Kerusakan penglihatan pada malam hari.

3. Kerusakan pada liver dan ginjal.

4. Peningkatan resiko terkena virus HIV dan hepatitis dan penyakit infeksi lainnya melalui jarum suntik.

5. Penurunan hasrat dalam hubungan sex.

6. Kebingungan dalam identitas seksual.

7. Kematian karena overdosis.

Gejala Intoksikasi

Konstraksi pupil (atau dilatasi pupil karena anoksia akibat overdosis berat) dan satu (atau lebih) tanda berikut, yang berkembang selama , atau segera setelah pemakaian opioid, yaitu :

1. Mengantuk atau koma

2. Berbicara cadel

3. Gangguan atensi atau daya ingat

4. Perilaku maladaptif atau perubahan psikologis yang bermakna secara klinis (misalnya euforia awal diikuti oleh apatis, disforia, agitasi atau retardasi psikomotor, gangguan pertimbangaan, atau gangguan fungsi sosial atau pekerjaan) yang berkembang selama, atau segera setelah pemakaian opioid.

Gejala Putus Zat

Gejala putus obat dimulai dalam enam sampai delapan jam setelah dosis terakhir, biasanya setelah suatu periode satu sampai dua minggu pemakaian kontinu atau pemberian antagonis narkotik. Sindroma putus obat mencapai puncak intensitasnya selama hari kedua atau ketiga dan menghilang selama 7 sampai 10 hari setelahnya. Tetapi beberapa gejala mungkin menetap selama enam bulan atau lebih lama. Gejala putus obat dari ketergantungan opioid adalah :

1. kram otot parah dan nyeri tulang

2. diare berat

3. kram perut

4. rinorea

5. lakrimasi

6. piloereksi

7. menguap

8. demam

9. dilatasi pupil

10. hipertensi

11. takikardi

12. disregulasi temperatur

Seseorang dengan ketergantungan opioid jarang meninggal akibat putus opioid, kecuali orang tersebut memiliki penyakit fisik dasar yang parah, seperti penyakit jantung. Gejala residual seperti insomnia, bradikardia, disregulasi temperatur, dan kecanduan opiat mungkin menetap selama sebulan setelah putus zat. Pada tiap waktu selama sindroma abstinensi, suatu suntikan tunggal morfin atau heroin menghilangkan semua gejala. Gejala penyerta putus opioid adalah kegelisahan, iritabilitas, depresi, tremor, kelemahan, mual, dan muntah.

  1. Golongan Koka

Efek yang ditimbulkan antara lain :

    1. Elasi
    2. Euforia
    3. Peningkatan harga diri dan perasan perbaikan pada tugas mental dan fisik. Kokain dalam dosis rendah dapat disertai dengan perbaikan kinerja pada beberapa tugas kognitif.

Gejala Intoksikasi

Pada penggunaan Kokain dosis tinggi gejala intoksikasi dapat terjadi :

a. Agitasi

b. Iritabilitas

c. Gangguan dalam pertimbangan

d. Perilaku seksual yang impulsif, cenderung agresif

e. Peningkatan aktivitas psikomotor menyeluruh dan kemungkinan gejala mania

f. Takikardi

g. Hipertensi

h. Midriasis

Gejala Putus Zat

Setelah menghentikan pemakaian Kokain atau setelah intoksikasi akut terjadi depresi pascaintoksikasi (crash) yang ditandai dengan disforia, anhedonia, kecemasan, iritabilitas, kelelahan, hipersomnolensi, kadang-kadang agitasi.
Pada pemakaian kokain ringan sampai sedang, gejala putus Kokain menghilang dalam 18 jam. Pada pemakaian berat, gejala putus kokain bisa berlangsung sampai satu minggu, dan mencapai puncaknya pada dua sampai empat hari. Gejala putus Kokain juga dapat disertai dengan kecenderungan untuk bunuh diri. Orang yang mengalami putus Kokain seringkali berusaha mengobati sendiri gejalanya dengan alkohol, sedatif, hipnotik, atau obat antiensietas seperti diazepam (Valium).

  1. Golongan Kanabis

Efek yang ditimbulkan

Efek euforia telah dikenali. Efek medis yang potensial adalah sebagai analgesik, antikonvulsan dan hipnotik. Belakangan ini juga telah berhasil digunakan untuk mengobati mual sekunder yang disebabkan terapi kanker dan untuk menstimulasi nafsu makan pada pasien dengan sindroma imunodefisiensi sindrom (AIDS). Kanabis juga digunakan untuk pengobatan glaukoma dan mempunyai efek aditif dengan efek alkohol, yang seringkali digunakan secara kombinasi.

Gejala Intoksikasi

1. Meninggikan kepekaan pemakai terhadap stimuli eksternal

2. Membuat warna-warna tampak lebih terang

3. Perlambatan waktu secara subjektif. Pada dosis tinggi pemakai mungkin juga merasakan depersonalisasi dan derealisasi.

4. Keterampilan motorik terganggu. Gangguan pada keterampilan motorik tetap ada setelah efek euforia dan persepsi subyektif menghilang. Selama 8 sampai 12 jam setelah menggunakan kanabis, pemakai mengalami suatu gangguan keterampilan motorik yang mengganggu kemampuan mengendarai mobil, motor, mesin berat.

5. Delirium yang disebabkan karena intoksikasi. Ditandai dengan adanya gangguan kognitif, kemampuan unjuk kerja, gangguan daya ingat, waktu reaksi, persepsi, koordinasi motorik dan pemusatan perhatian.

6. Dosis tinggi juga mengganggu tingkat kesadaran pemakai.

7. Reaksi kecemasan singkat yang dicetuskan oleh pikiran paranoid. Dalam keadaan tersebut dapat terjadi panik yang didasarkan karena rasa takut yang tidak jelas dan tidak terorganisir. Pemakai yang tidak pengalaman lebih mudah mengalami gejala kecemasan dari pada pemakai yang berpengalaman.

alkohol

Efek yang ditimbulkan

Efek yang ditimbulkan setelah mengkonsumsi alkohol dapat dirasakan segera dalam waktu beberapa menit saja, tetapi efeknya berbeda-beda, tergantung dari jumlah/kadar alkohol yang dikonsumsi. Dalam jumlah yang kecil, alkohol menimbulkan perasaan relax, dan pengguna akan lebih mudah mengekspresikan emosi, seperti rasa senang, rasa sedih dan kemarahan. Bila dikonsumsi lebih banyak lagi, akan muncul efek sebagai berikut :

  1. Merasa lebih bebas mengekspresikan diri, tanpa ada perasaan terhambat
  2. Menjadi lebih emosional (sedih, senang, marah secara berlebihan).
  3. Berefek pada fungsi fisik - motorik, yaitu bicara cadel, pandangan menjadi kabur, sempoyongan, inkoordinasi motorik dan bisa sampai tidak sadarkan diri.
  4. Kemampuan mental mengalami hambatan, yaitu gangguan untuk memusatkan perhatian dan daya ingat terganggu.
  5. Pengguna biasanya merasa dapat mengendalikan diri dan mengontrol tingkah lakunya. Pada kenyataannya mereka tidak mampu mengendalikan diri seperti yang mereka sangka mereka bisa. Oleh sebab itu banyak ditemukan kecelakaan mobil yang disebabkan karena mengendarai mobil dalam keadaan mabuk.
  6. Pemabuk atau pengguna alkohol yang berat dapat terancam masalah kesehatan yang serius seperti radang usus, penyakit liver, dan kerusakan otak.
  7. Kadang-kadang alkohol digunakan dengan kombinasi obat - obatan berbahaya lainnya, sehingga efeknya jadi berlipat ganda. Bila ini terjadi, efek keracunan dari penggunaan kombinasi akan lebih buruk lagi dan kemungkinan mengalami over dosis akan lebih besar.

Penggunaan jangka panjang

  1. Perlemakan hati
  2. Pengkerutan hati ( kanker hati )
  3. Peradangan lambung
  4. Radang pankreas
  5. Polineuritis
  6. Myopati
  7. Kardiomiopati
  8. Pikun (psikosis korsakof)
  9. Cacat pada janin (pada ibu hamil yang mengonsumsi alkohol)

Gejala Putus Zat

Penghentian atau penurunan pemakaian alkohol yang telah berlangsung lama atau pemakaian yang berat bisa mengalami gejala seperti di bawah ini :

  1. Hiperaktifitas otonomik (berkeringat, denyut nadi melebihi 100) peningkatan tremor tangan.
  2. Insomnia
  3. Mual atau Muntah
  4. Agitasi Psikomotor
  5. Kecemasan
  6. Kejang
  7. Halusinasi atau ilusi pengelihatan, pendengaran, perabaan

PSIKOTROPIKA

  1. Amphetamine

Efek yang ditimbulkan

Amphetamine tipikal digunakan untuk meningkatkan daya kerja dan untuk menginduksi perasaan euforik. Pelajar yang belajar untuk ujian, pengendara truk jarak jauh, pekerja yang sering dituntut bekerja mengejar deadline, dan atlet. Amphetamine merupakan zat yang adiktif.

Jenis obat-obatan yang tergolong kelompok amphetamine adalah : dextroamphetamine (Dexedrin), methamphetamine dan methylphenidate (Ritalin).
Obat tersebut beredar dengan nama jalanan : crack, ecstasy, ice, crystal meth, speed, shabu-shabu.

Gejala Intoksikasi

Sindroma intoksikasi amfetamin serupa dengan intoksikasi kokain, yaitu

    1. Takikardi
    2. Dilatasi pupil
    3. Penurunan atau peningkatan tekanan darah
    4. Berkeringat atau mengigil
    5. Mual atau muntah
    6. Penurunan berat badan
    7. Agitasi atau retardasi psikomotor
    8. Kelemahan otot, depresi pernapasan, nyeri dada, aritmia jantung
      Konfusi, kejang, diskinesia, distonia, koma

Gejala Putus Zat

a. Kecemasan

b. Gemetar

c. Mood disforik

d. Letargi

e. Fatigue

f. Mimpi yang menakutkan

g. Nyeri kepala

h. Berkeringat banyak

i. Kram otot dan lambung

j. Rasa lapar yang tidak pernah kenyang

  1. Halusinogen (LSD)

Ketergantungan Zat

Pemakaian jangka panjang jarang terjadi. Tidak terdapat adiksi fisik, namun demikian adiksi psikologis dapat terjadi walaupun jarang. Hal ini disebabkan karena pengalaman menggunakan LSD berbeda-beda dan karena tidak terdapat euforia seperti yang dibayangkan.

Gejala Intoksikasi

    1. Perilaku maladaptif (kecemasan, paranoid, gangguan dalam pertimbangan, dsb)
    2. Perubahan persepsi ( depersonalisasi, ilusi, direalisasi, halusinasi,dsb )
    3. Dilatasi pupil
    4. Takikardi
    5. Berkeringat
    6. Palpitasi
    7. Pandangan kabur
    8. Tremor
    9. Inkoordinasi

  1. Phenycyclidine (PCP)

Efek yang ditimbulkan

Efek PCP adalah mirip dengan efek halusinogen seperti lysergic acid diethylamide (LSD); tetapi karena farmakologi yang berbeda dan adanya efek klinis yang berbeda diklasifikasikan sebagai kategori obat yang berbeda. Ketergantungan secara fisik jarang ditemui, tetapi ketergantungan secara psikologis sering dialami oleh pengguna PCP.

Gejala Klinis

a. Menjadi tidak komunikatif, tampak pelupa dan fantasi yang aktif

b. Tempo yang cepat

c. Euforia

d. Badan yang hangat

e. Rasa geli dan melayang yang penuuh kedamaian

f. Perasaan depersonalisasi

g. Isolasi diri

h. Halusinasi visual dan auditorius

i. Gangguan persepsi tempat dan waktu

j. Perubahan citra tubuh yang mencolok

k. Konfusi dan disorganisasi pikiran

l. Kecemasan

m. Menjadi simpatik, bersosialisasi dan suka bicara pada suatu saat dan bersikap bermusuhan pada waktu lainnya

n. Hipertensi, nistagmus dan hipertermia

o. Melakukan gerakan kepala memutar, menyeringai, menghentak

p. Kekakuan otot

q. Muntah berulang

r. Bicara dan menyanyi berulang

s. Lekas marah, paranoid

t. Suka berkelahi atau menyerang secara irasional

u. Bunuh diri atau membunuh

v. Delirium

w. Gangguan psikotik

x. Gangguan mood

y. Gangguan kecemasan

  1. Sedatif, Hipnotik, Ansiolitik

Jenis obat-obatan yang tergolong kelompok sedatif-hipnotik atau ansiolitik adalah benzodiazepin, seperti :

- Diazapam (Valium)

- Barbiturat contoh secobarbital (Seconal)

- Qualone (Quaalude)

- Mepobramate (Equanil)

- Dana glutethimide (Doriden)

Obat-obatan ini sebenarnya diresepkan sebagai antipiretik, pelemas otot, anestetik, dan adjuvan anestetik. Semua obat dalam kelas ini dan alkohol memiliki toleransi silang dan efeknya adalah adiktif. Ketergantungan fisik dan psikologis berkembang terhadap semua obat-obatan ini, dan semuanya disertai gejala putus obat.

ZAT ADIKTIF

  1. Inhalansia

Yang termasuk dalam golongan ini adalah Aica Aibon (lem), aseton, thinner, dan N2O.

Gejala Klinis

Dalam dosis awal yang kecil inhalan dapat menginhibisi dan menyebabkan perasaan euforia, kegembiraan, dan sensasi mengambang yang menyenangkan. Gejala psikologis lain pada dosis tinggi dapat berupa rasa ketakutan, ilusi sensorik, halusinasi auditoris dan visual dan distorsi ukuran tubuh. Gejala neurologis dapat termasuk bicara yang tidak jelas (menggumam, penurunan kecepatan bicara, dan ataksia) . Penggunaan dalam waktu lama dapat menyebabkan iritabilitas, labilitas emosi dan gangguan ingatan.
Sindroma putus inhalan tidak sering terjadi, kalaupun ada muncul dalam bentuk susah tidur, iritabilitas, kegugupan, berkeringat, mual, muntah, takikardia, dan kadang-kadang disertai waham dan halusinasi.

Efek yang ditimbulkan

Efek merugikan yang paling serius adalah kematian yang disebabkan karena depresi pernafasan, aritmia jantung, asfiksiasi, aspirasi muntah atau kecelakaan atau cedera. Penggunaan inhalan dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan kerusakan hati dan ginjal yang ireversibel dan kerusakan otot yang permanen.

  1. Kafein

  1. Nikotin

Efek yang ditimbulkan

efek stimulasi dari nikotin menyebabkan peningkatan perhatian, belajar, waktu reaksi, dan kemampuan untuk memecahkan masalah. Menghisap rokok meningkatkan mood, menurunkan ketegangan dan menghilangkan perasaan depresif. Pemaparan nikotin dalam jangka pendek meningkatkan aliran darah serebral tanpa mengubah metabolisme oksigen serebral. Tetapi pemaparan jangka panjang disertai dengan penurunan aliran darah serebral, berbeda dengan efek stimulasinya pada sistem saraf pusat, bertindak sebagai relaksan otot skeletal.
Komponen psikoaktif dari tembakau adalah nikotin.
Nikotin adalah zat kimia yang sangat toksik.
Dosis 60 mg pada orang dewasa dapat mematikan, karena paralisis (kegagalan) pernafasan.

Ketergantungan

Ketergantungan nikotin berkembang cepat karena aktivasi sistem dopaminergik area segmental ventral oleh nikotin (sistem yang sama dipengaruhi oleh Kokain dan Amphetamin). Perkembangan ketergantungan dipercepat oleh faktor sosial yang kuat yang mendorong merokok dalam beberapa lingkungan dan oleh karena efek kuat dari iklan rokok. Orang kemungkinan merokok jika orangtuanya atau saudara kandungnya merokok dan yang berperan sebagai model peran atau tokoh identifikasi merokok. Ada penelitian terakhir juga menyatakan suatu diatesis genetik ke arah ketergantungan nikotin.

ternyata banyak juga ya zat-zat NAPZA yang ada disekitar kita. Tapi pasti ada bedanya dong antara pemakai NAPZA dan non-pemakai NAPZA. Mau tahu bedanya??Baca yang jelas ya...

1. F I S I K

- Berat badan turun drastis.

- Mata terlihat cekung dan merah, muka pucat, dan bibir kehitam-hitaman.

- Tangan penuh dengan bintik-bintik merah, seperti bekas gigitan nyamuk dan ada tanda bekas luka sayatan. Goresan dan perubahan warna kulit di tempat bekas suntikan.

- Buang air besar dan kecil kurang lancar.

- Sembelit atau sakit perut tanpa alasan yang jelas.

2. E M O S I

- Sangat sensitif dan cepat bosan.

- Bila ditegur atau dimarahi, dia malah menunjukkan sikap membangkang.

- Emosinya naik turun dan tidak ragu untuk memukul orang atau berbicara kasar terhadap anggota keluarga atau orang di sekitarnya.

- Nafsu makan tidak menentu.

3. P E R I L A K U

- Malas dan sering melupakan tanggung jawab dan tugas-tugas rutinnya.

- Menunjukkan sikap tidak peduli dan jauh dari keluarga.

- Sering bertemu dengan orang yang tidak dikenal keluarga, pergi tanpa pamit dan pulang lewat tengah malam.

- Suka mencuri uang di rumah, sekolah ataupun tempat pekerjaan dan menggadaikan barang-barang berharga di rumah. Begitupun dengan barang-barang berharga miliknya, banyak yang hilang.

- Selalu kehabisan uang.

- Waktunya di rumah kerapkali dihabiskan di kamar tidur, kloset, gudang, ruang yang gelap, kamar mandi, atau tempat-tempat sepi lainnya.

- Takut air, jika terkena akan terasa sakit, karena itu mereka jadi malas mandi.

- Sering batuk-batuk dan pilek berkepanjangan, biasanya terjadi pada saat gejala “putus zat”.

- Sikapnya cenderung jadi manipulatif dan tiba-tiba tampak manis bila ada maunya, seperti saat membutuhkan uang untuk beli obat.

- Sering berbohong dan ingkar janji dengan berbagai macam alasan.

- Bicara cedal atau pelo.

- Jalan sempoyongan

- Mengalami jantung berdebar-debar.

- Sering menguap.

- Mengeluarkan air mata berlebihan.

- Mengeluarkan keringat berlebihan.

- Sering mengalami mimpi buruk.

- Mengalami nyeri kepala

- Mengalami nyeri/ngilu sendi-sendi.

Penggunaan NAPZA secara jangka panjang ternyata bisa merusak jiwa dan raga. Ga percaya?? Dibawah ini ada penelitian yang menjelaskan hal-hal tersebut. Efek samping penyalahgunaan narkoba pada organ tubuh, seperti dikutip dari NIDA (National Institute On Drug Abuse) dalam situsnya:

Penyalahgunaan narkoba tidak hanya melemahkan sistem kekebalan tubuh seseorang, tetapi hal itu juga kerap dikaitkan dengan berbagai perilaku berbahaya seperti pemakaian jarum suntik secara bergantian, dan perilaku seks bebas. Kombinasi dari keduanya akan sangat berpotensi meningkatkan resiko tertular penyakit HIV/AIDS, hepatitis, dan beragam penyakit infeksi lainnya. Perilaku berbahaya tersebut biasanya berlaku bagi penggunaan narkoba berjenis heroin, kokain, steroid, dan methamphetamin.

Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah

Para peneliti telah menemukan semacam korelasi antara penyalahgunaan narkoba (dalam berbagai frekuensi penggunaan) dengan kerusakan fungsi jantung, mulai dari detak jantung yang abnormal sampai dengan serangan jantung. Penyuntikan zat-zat psikotropika juga dapat menyebabkan kolapsnya saluran vena, serta resiko masuknya bakteri lewat pembuluh darah dan klep jantung. Beberapa jenis narkoba yang dapat merusak kinerja sistem jantung antara lain kokain, heroin, inhalan, ketamin, LSD, mariyuana, MDMA, methamphetamin, nikotin, PCP, dan steroid.

Penyakit Gangguan Pernapasan

Penyalahgunaan narkoba juga dapat menyebabkan beragam permasalahan sistem pernapasan. Merokok, misalnya, sudah terbukti merupakan penyebab penyakit bronkhitis, emphysema, dan kanker paru-paru. Begitu pula dengan menghisap mariyuana yang bisa membawa dampak lebih parah lagi. Penggunaan sejumlah zat psikotropika juga dapat mengakibatkan lambatnya pernapasan, menghalangi udara segar memasuki paru-paru yang lebih buruk dari gejala asma.

Penyakit Nyeri Lambung

Dari efek merugikan yang ditimbulkannya, beberapa kasus penyalahgunaan narkoba juga diketahui dapat menyebabkan mual dan muntah beberapa saat setelah dikonsumsi. Penggunaan kokain juga dapat mengakibatkan nyeri pada lambung.

Penyakit Kelumpuhan Otot

Penggunaan steroid pada masa kecil dan masa remaja, menghasilkan hormon seksual melebihi tingkat sewajarnya, dan mengakibatkan pertumbuhan tulang terhenti lebih cepat dibanding saat normal. Sehingga tinggi badan tidak maksimal, bahkan cenderung pendek. Beberapa jenis narkoba juga dapat mengakibatkan kejang otot yang hebat, bahkan bisa berlanjut pada kelumpuhan otot.

Penyakit Gagal Ginjal

Beberapa jenis narkoba juga dapat memicu kerusakan ginjal, bahkan menyebabkan gagal ginjal, baik secara langsung maupun tak langsung akibat kenaikan temperatur tubuh pada tingkat membahayakan sampai pada terhentinya kinerja otot tubuh.

Penyakit Neurologis

Semua perilaku penyalahgunaan narkoba mendorong otak untuk memproduksi efek euforis. Bagaimanapun, beberapa jenis psikotropika juga memberikan dampak yang sangat negatif pada otak seperti stroke, dan kerusakan otak secara meluas yang dapat melumpuhkan segala aspek kehidupan pecandunya. Penggunaan narkoba juga dapat mengakibatkan perubahan fungsi otak, sehingga menimbulkan permasalahan ingatan, permasalahan konsentrasi, serta ketidakmampuan dalam pengambilan keputusan.

Penyakit Kelainan Mental

Penyalahgunaan narkoba yang sudah sampai pada level kronis dapat mengakibatkan perubahan jangka panjang dalam sel-sel otak, yang mendorong terjadinya paranoia, depresi, agresi, dan halusinasi.

Penyakit Kelainan Hormon

Penyalahgunaan narkoba dapat mengganggu produksi hormon di dalam tubuh secara normal, yang mengakibatkan kerusakan yang dapat dipulihkan sekaligus yang tidak dapat dipulihkan kembali. Semua perusakan ini meliputi kemandulan dan penyusutan testikel pada pria, sebagaimana juga efek maskulinisasi yang terjadi pada wanita.


Penyakit Kanker

Merokok nikotin adalah penyebab kanker yang paling mungkin dicegah di Amerika Serikat. Aktifitas merokok nikotin ini biasa dihubungkan dengan penyakit kanker mulut, leher, lambung, dan paru-paru. Merokok mariyuana juga bisa mengakibatkan masuknya bakteri karsinogen ke dalam paru-paru, hingga merubah fungsi paru-paru di tahap pra-kanker.

Penyakit Gangguan Kehamilan

Efek keseluruhan akibat ketergantungan narkoba terhadap kesehatan janin yang dikandung memang tidak diketahui. Namun, beberapa studi menunjukkan bahwa penyalahgunaan narkoba dapat menyebabkan kelahiran prematur, keguguran, penurunan berat bayi, serta berbagai permasalahan perilaku maupun kognitif pada bayi di kemudian hari.

Permasalahan Kesehatan Lainnya

Sebagai tambahan dari berbagai penjelasan tentang penyakit yang ditimbulkan oleh penyalahgunaan narkoba di atas, perlu diketahui pula bahwa semua jenis narkoba tersebut memiliki potensi merubah fungsi tubuh secara keseluruhan. Termasuk diantaranya perubahan selera makan dan peningkatan suhu tubuh secara dramatis yang bisa melumpuhkan kesehatan dalam waktu singkat. Tidak cukup sampai disitu, zat psikotropika berpotensi menimbulkan kelelahan yang berkepanjangan, mengombang-ambingkan perasaan, kepenatan mendalam, perubahan selera makan, nyeri pada otot dan tulang, hilang ingatan, diare, keringat dingin, dan muntah-muntah.

Bahkan dari kutipan artikel dari ANTARA News mengemukakan bahwa penggunaan narkoba meningkatkan risiko timbulnya sakit jiwa hingga lebih dari 40 persen. Para dokter, sebagaimana dimuat "The Lancet" edisi Sabtu, minta pihak-pihak yang berwenang untuk masalah kesehatan, mengingatkan kaum muda tentang risiko ganja terhadap pikiran.

Kesimpulan tersebut berdasarkan tinjauan terhadap 35 penelitian yang meneliti frekwensi sizofrenia, khayalan, halusinasi, kekacauan pikiran dan sakit kejiwaan lainnya yang dialami para pemakai ganja. Pengguna ganja ternyata 41 persen lebih mungkin mengalami hal-hal tersebut dibanding mereka yang tidak pernah merokok.
Studi itu juga mengamati risiko depresi, kegelisahan dan kondisi emosional lainnya, namun belum ada bukti yang pasti untuk mengaitkannya dengan ganja.Para penulis laporan itu mengatakan bahwa mereka telah berusaha sebaik mungkin namun tetap ada kemungkinan bahwa penelitian itu terpengaruh "faktor-faktor pengacau" yang sudah biasa ada dalam penelitian tentang pengaruh ganja.

Namun, laporan tersebut mengemukakan bahwa sekarang telah ada bukti yang pasti untuk memperingatkan kaum muda bahwa narkoba dapat menyebabkan sakit jiwa. Di Inggris, 40 persen orang dewasa muda dan remaja pernah memakai ganja. Jika dihitung-hirung, sekitar 14 persen kasus kejiwaan kaum muda di Inggris dapat dihindari jika tidak ada pemakaian ganja.

Penelitian itu dipimpin Theresa Moore dari University of Bristol, dan Stanley Zammit dari Cardiff University. Mereka tidak memasukkan penelitian terhadap orang yang kecanduan atau yang punya catatan masalah kejiwaan, selain mengabaikan pasien yang mendapat ganja saat pengobatan medis serta tidak memasukkan narapidana sebagai sampel. Masalah besar bagi penelitian tersebut adalah ganja merupakan barang terlarang sehingga kekuatan dan dosisnya bermacam-macam, berbeda dengan tembakau yang merupakan barang resmi, demikian AFP

Overdosis atau kelebihan dosis terjadi akibat tubuh mengalami keracunan akibat obat. OD sering terjadi bila menggunakan narkoba dalam jumlah banyak dengan rentang waktu terlalu singkat, biasanya digunakan secara bersamaan antara putaw, pil, heroin digunakan bersama alkohol. Atau menelan obat tidur seperti golongan barbiturat (luminal) atau obat penenang (valium, xanax, mogadon/BK).

Ciri-ciri Overdosis

- Tidak ada respons

- Tidur mendengkur

- Bibir dan kuku membiru

- Tubuh dingin dan kulit lembab

- Kejang-kejang

- Adanya riwayat pemakaian morfin/heroin terdapat tanda bekas jarum suntik

- Frekuensi pernafasan <>

- Penurunan kesadaran

Pertolongan Pertama

- Baringkan penderita di tempat tidur dan angkat dagu korban

- Tekan hidung penderita dengan jari

- Tiup napas bantuan sebanyak dua kali secara perlahan

- Pastikan dada penderita bergerak naik turun

- Goyangkan badan penderita untuk mendapatkan respon

- Bila tidak ada respon, bawa penderita ke RS terdekat

- Jangan panik dan jangan menunda waktu

Yang Tidak Boleh Dilakukan

- Memberi air minum, air garam, atau menyuntik penderita dengan air jeruk

- Penderita disiram air atau dimandikan agar dia sadar, karena hal tersebut akan menyebabkan berubahnya suhu tubuh dan membuatnya shock, bahkan tak jarang membuat paru-paru korban terendam air.

- Membuat penderita sadar dengan cara mengupayakan penderita berdiri dan berjalan-jalan.

Faktor-faktor Pendukung terjadinya Gangguan Penggunaan NAPZA

  1. Faktor Biologis

Faktor ini murni berhubungan dengan fisiologis individu antara lain :

- Genetik

- Metabolik

- Infeksi pada otak

- Penyakit kronis

  1. Faktor Psikologis

- Tipe kepribadian yang dependen, ansietas, deepresi, antisosial

- Harga diri rendah

- Disfungsi keluarga

- Individu yang mengalami krisis identitas dan kecenderungan untuk mempraktikan homoseksual, krisis identitas

- Rasa bermusuhan dengan keluarga atau orangtua

  1. Faktor Sosio Kultural

- Masyarakat yang ambivalen dengan penggunaan zat seperti nikotin, alkohol, tembakau, dan ganja

- Norma keagamaan pada suku bangsa tertentu yang menggunakan halusinogen atau alkohol untuk upacara adat atau keagamaan.

- Lingkungan tempat tinggal, sekolah, teman sebaya, banyak mengedarkan dan menggunakan NAPZA

- Persepsi dan penerimaan masyarakat terhadap penggunaan NAPZA.

- Remaja lari dari rumah

- Penyimpangan seksual pada usia dini

- Perilaku tindak kriminal pada usia dini

- Kehidupan beragama yang kurang

(Yosep, 2007 : 158)

Tidak ada komentar: